efek ketersediaan
mengapa berita buruk lebih mendominasi cara kita memilih jalan hidup
Pernahkah kita membatalkan niat memulai bisnis karena baru saja melihat teman bangkrut dan curhat panjang lebar di media sosial? Atau mungkin, kita jadi parno setengah mati naik pesawat setelah melihat rentetan berita kecelakaan udara berminggu-minggu di televisi. Anehnya, di saat yang sama, kita santai saja mengetik pesan di handphone sambil menyetir mobil, padahal risiko kecelakaan lalu lintas jauh lebih tinggi. Mari kita jujur pada diri sendiri. Sering kali, kita merasa dunia ini semakin kacau, berbahaya, dan masa depan tampak sangat gelap. Kecemasan ini diam-diam merayap masuk dan menyetir keputusan-keputusan penting dalam hidup kita. Tapi, apakah dunia memang seburuk itu?
Sebenarnya, ada alasan evolusioner mengapa kita lebih suka menelan cerita buruk mentah-mentah. Ratusan ribu tahun yang lalu, nenek moyang kita di sabana Afrika tidak punya kemewahan waktu untuk memikirkan indahnya matahari terbenam kalau ada suara gemerisik di semak-semak. Gemerisik itu bisa jadi hanya angin, tapi bisa juga seekor harimau sabertooth yang sedang lapar. Secara biologis, otak manusia memang dirancang untuk memprioritaskan ancaman. Bagi nenek moyang kita, berita buruk adalah sinyal bahaya yang menyelamatkan nyawa. Masalahnya, dunia sudah berubah drastis. Kita sekarang tidak lagi lari dari kejaran predator liar. Sebaliknya, kita lari dari notifikasi grup obrolan, headline berita sensasional, dan drama media sosial yang tiada henti.
Lalu, apa hubungannya dengan jalan hidup yang kita pilih? Nah, di sinilah letak jebakannya. Otak kita itu luar biasa pintar, tapi dia juga sangat hemat energi. Otak manusia pada dasarnya benci perhitungan statistik atau probabilitas yang rumit. Saat kita harus mengambil keputusan besar—seperti memilih pindah kota, mengganti karir, atau berinvestasi—otak kita butuh referensi cepat. Dia akan mencari jalan pintas dengan membongkar "lemari arsip" memori di kepala kita. Sayangnya, arsip yang paling gampang diambil dari lemari itu bukanlah data statistik yang akurat dan membosankan. Arsip yang paling atas adalah cerita-cerita yang paling emosional, berdarah-darah, atau dramatis. Pertanyaannya, saat kita merancang masa depan, apakah kita sedang melihat peta kenyataan, atau kita hanya disetir oleh kumpulan kisah menakutkan yang kebetulan paling kencang berteriak di telinga kita?
Selamat datang di sebuah konsep psikologi yang disebut availability heuristic atau efek ketersediaan. Dua tokoh legendaris di bidang psikologi dan ekonomi perilaku, Amos Tversky dan Daniel Kahneman, membedah fenomena ini pada tahun 1970-an. Secara ilmiah, efek ketersediaan adalah jalan pintas mental di mana otak kita menilai kemungkinan terjadinya suatu peristiwa berdasarkan seberapa mudah contoh peristiwa itu diingat. Semakin mudah sebuah informasi dipanggil oleh memori, semakin kita percaya bahwa itu adalah kebenaran universal.
Berita buruk, tragedi, dan kegagalan punya daya rekat yang luar biasa kuat di otak kita karena memicu hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Jadi, kalau kita setiap hari dijejali berita soal resesi dan pemutusan hubungan kerja, otak kita akan yakin seratus persen bahwa kita pasti akan jatuh miskin tahun depan. Akibatnya sangat fatal bagi jalan hidup kita. Kita jadi memilih karir yang terlalu "aman" tapi menyiksa batin, menolak peluang emas untuk berkembang, atau bertahan di lingkungan yang toksik hanya karena cerita soal kegagalan di luar sana terasa jauh lebih mengerikan daripada kenyataan yang sebenarnya.
Saya tahu, melepaskan diri dari rantai ketakutan ini tidaklah gampang. Kita ini manusia biasa, dan merasa cemas terhadap masa depan adalah hal yang sangat wajar. Tapi teman-teman, kita selalu punya ruang untuk mengambil jeda dan berpikir kritis. Lain kali, saat kita ragu mengambil sebuah langkah besar karena teringat sebuah berita buruk, coba berhenti sejenak. Ambil napas panjang. Tanyakan pada diri sendiri: apakah ketakutan saya ini berbasis data yang nyata, atau sekadar cerita seram yang kebetulan paling gampang saya ingat?
Mari kita biasakan mencari data pembanding atau base rate sebelum membuat kesimpulan. Dunia ini memang tidak sempurna dan tantangan itu selalu ada. Namun, banyak statistik yang membuktikan bahwa peradaban kita saat ini jauh lebih aman, sehat, dan penuh peluang dibandingkan era mana pun dalam sejarah manusia. Jangan biarkan memori tentang ketakutan dan kegagalan orang lain menjadi sutradara bagi masa depan kita sendiri. Kita berhak menulis cerita kita, dengan pikiran yang jernih dan keberanian yang terukur.